Langsung ke konten utama

Postingan

Daun

Aku sedang belajar. Aku sedang belajar menjadi daun yang harus gugur pada musimnya. Entah pohonku dimana. Aku tidak tahu persis. Yang aku tahu, aku diterbangkan angin tenggara sampai kesini. Aku sedang menulis. Menulis semua isi di hatiku yang mulai berorasi. Sayangnya, aku tidak pernah memiliki penghapus. Aku hanya memiliki tinta yang aku dapat dari pohon yang menggugurkan daunku. Aku tidak pernah bermimpi menjadi manusia. Karena manusia hidup terlalu lama. Aku sendiri tidak paham bagaimana mereka bisa bertahan dengan kenangan yang seharusnya tidak mereka kenang. Setiap hari. Setiap hujan datang. Setiap malam di kedai kopi kesayangan. Manusia, mungkin memang seperti itu. Aku sedang belajar. Belajar menjadi daun yang tegar. Meski aku merindukan pohonku. Aku merindukan tempat dimana aku bisa bercengkerama dengan daun-daun lain. Aku hanya tidak ingin sendirian seperti ini. Di pantai ini. Sepi, hanya ada suara ombak yang menggelegar dan membuatku semakin takut. Aku seda...

Cukup

Karena cinta itu cukup. Tak pernah lebih besar, tak pernah lebih kecil. Karena cinta itu memaafkan. Dan cinta tak pernah berhenti memaafkan. Namun, tidak semua seperti itu. Hanya berapa. Dan aku selalu mendapat bagian yang tidak dari beberapa itu. Aku tidak pernah dimaafkan. Aku tidak pernah memiliki kesempatan kedua untuk mencintai. Di saat semua sekat sudah terbuka dan mentari siap bersinar kembali, ternyata aku terlambat. Nampaknya aku memiliki hubungan yang kurang baik dengan waktu. Lalu senja, mana senja? Mana senjaku yang harusnya datang? Mana senjaku yang akan menghapuskan darah di sekujur tubuhku dengan senyumnya. Mana senja? Bahkan aku sudah sekarat. Dengan krat-krat minuman yang hampir membobol habis isi otakku. Senja tidak pernah datang. Karena aku tidak tahu, bagaimana rasa itu bisa lebur dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan aku selalu memupuknya setiap hari. Setiap malam aku hidangkan cerita, aku belai dengan penuh cinta agar ketangguhan itu tetap melekat sampa...

Now...

Karena hidup adalah sekarang. Bukan kemarin, bukan besok. Dan aku butuh waktu lama untuk menyadarinya. Secuil aku secara tidak sadar mulai hidup kembali dengan kemasan yang baru. Dengan raga yang baru. Dengan ketangguhan yang setiap hari kuamini di setiap doa atas nama orang-orang terkasih. Seperti itulah proses kehidupan, dari sebuah titik hingga menjadi kalimat. Dari sebuah aku sampai menjadi kita. Seperti itulah cara Tuhan menjaga keseimbangan semesta raya dengan rumus empirisnya.  Hidup akan mengikis siapapun yang memilih diam. Yang memilih   menggali lubangnya sendiri. Karena untuk mendaki ketangguhan dibutuhkan sedikit rasa berani. Hanya sedikit, agar manusia tidak menjadi begitu sombong. Hanya sedikit, karena Tuhan menciptakan semuanya sudah pada proporsinya. Tidak kurang. Tidak lebih. Maka, seperti itulah bahagia. Tidak pernah lebih, tidak pernah kurang. Lalu tentang hati, ada password yang harus mereka pecahkan untuk menjajahi hatiku, juga hatimu. Jangan ...