Langsung ke konten utama

Jadi, seperti inilah kita

Kita hanyalah lakon dalam dunia yang penuh warna kelabu hingga merah pucat.
Kita hanyalah seonggok bentuk lain dari tragedi yang porak poranda akibat semesta yang menerbangkan kabar duka sampai ke seberang.
Kita hanyalah pelaku yang mengunduh file dan membaca script tanpa harus melakukan adegan berbahaya dengan stunmant.
Kegilaan otak kita kadang menghamburkan kenyataan bahwa apa yang ada saat ini adalah sebotol minuman yang hanya tersisa beberapa tetes.
Tidak ada krat-krat besar berisi wine seperti yang sering kita lihat di gudang penyimpanan milik tetangga sebelah.
Bodohnya, kadang kita justru terlena pada sisi lain dari dunia yang menampilkan bayangan bias lewat pantulan cermin.
Yang kita lihat bukan sepenuhnya kanan atau kiri, karena kita hanya melihat dari satu sisi.
Bukan maksud Tuhan tidak adil atau malaikat yang salah menyampaikan paket lantaran angka kode pos pada dua digit terakhir terhapus oleh kotoran burung.
Hanya saja kita telah terikat kontrak kehidupan dengan alam semesta sebagai saksi dan Tuhan sebagai sutradara.
Kita hanya perlu mempelajari, memahami, dan menjalani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Namanya Andrea

Namanya Andrea. Aku suka memandang matanya. Aku suka melihat gaya bicaranya yang lugu ketika pertama kali ia memperkenalkan diri di depan kelas. Waktu itu, aku hanyalah murid kelas 3 SD yang tidak begitu paham cara menyapa seseorang yang belum dikenal. "Apa kabar?" ataukah "Hallo selamat siang!" apa mungkin "Apakah harimu menyenangkan?". Entahlah.   Namaku Andrian. Waktu itu aku hanyalah bocah kelas 3 SD yang hanya mempedulikan layang-layang dan komik. Itu saja. Tidak ternah terbesit di benakku untuk melakukan hal yang lebih dibandingkan berlarian di tengah teriknya matahari untuk mengejar layang-layang yang putus atau berdiam diri di kamar berjam-jam hanya untuk menamatkan satu komik Inuyasha. Tapi, kali ini beda. Ada suara sesuatu yang pecah di dalam jantungku. Sesuatu yang berat tampaknya. Tidak lama kemudian aku merasa aliran darah yang melalui pembuluh nadiku mendadak sesak dan seperti ingin keluar saja. Keluar menyapa Andrea dan b...

Permainan

Pernahkah kau merasa menyerah sebelum berjuang? Pernahkah kau merasa kalah telak bahkan sebelum menghunuskan pedang? Pernahkah kau merasa bahwa fighting is pointless ? Aku pernah. Dan aku sedang berada pada stage itu. Lebih parah lagi, aku tidak mampu bergerak. Mundur atau berani berani berjuang? Mundur atau berani bersaing? Hanya itu pilihannya. Aku terpingkal sambil memegangi perutku. Kocak. Kedai kopi berukuran exclusive itu menjadi saksi kegilaanku bermain UNO bersama rekan gila sejawatku, Andre. Aku sedang patah hati karena cintaku bertepuk sebelah tangan. Andre sedang patah hati karena seorang wanita yang bergelar kekasihnya beberapa hari lagi akan melangsungkan pernikahan. Dengan Andre? Oh, tidak. Dengan pria lain yang berprofesi sebagai dokter. Mampus. Espresso yang sedang kami raup saat ini bahkan tidak segetir kenyataan konyol yang sedang mampang di hadapan kami berdua. Aku, seorang Della Rosalita, dan dia seorang Andre Rahman Bimantara yang sanga...

Gadis Itu

Gadis itu masih memeluk boneka beruang cokelat miliknya. Mencengkeram dengan erat seolah tidak ingin siapapun mengambil separuh jiwanya. Yah, separuh atau bahkan seluruh jiwanya telah ia titipkan ke boneka beruang cokelat bernama “Andrea” itu. Gadis itu, duduk memojok di ujung kamarnya yang dingin. Hanya berbalut air mata sekujur wajahnya. Tangan kanannya menggenggam kepalanya dengan lemah. Pusing. Tangan kirinya masih mencengkeran erat boneka beruang yang sudah mulai lusuh. Pilu.  Matanya masih berpilinkan bekas air mata yang kini telah mengering. Tetapi, beberapa detik kemudian gelayutan air putih hangat itu kembali tampak dan memaksa turun (lagi). Meruntuhkan pertahanan gadis itu. Lantak dan ambruk mengenai dinding hatinya yang semakin keropos. Beberapa detik yang lalu, sebelum air mata itu pecah. Sebelum kekecewaan itu menyeruak serakah, sebelum senyum manis itu berganti menjadi raut yang mengerikan, ia masih sempat bernyanyi. Sambil menari bersama boneka beruang cokel...