Langsung ke konten utama

Suatu hari di bahari....

Tak ada pengaruhnya tindakan ini pada sepucuk kemungkinan, karena mentari pun akan terbenam.
Tetap saja mengadu pada dinginnya malam sampai dinginnya menguliti pikirku.
Sama sekali tidak ada pengaruhnya pada seucap kata ini karena waktu tak pernah sekalipun menunggu.
Lalu, harus terus berjalan dan pura-pura tidak mendengar, pura-pura tidak merasakan.
Meskipun kenyataan pada akhirnya akan menang di ujung persimpangan.
Lalu tahapku hanya sampai melalui dan merasakan atmosfer kekecewaan yang semakin keras tertawa.
Sudahlah, mari kita duduk sejenak, menikmati bahari dan aroma kopi merk-ku sendiri.
Karena esok, lusa, dan seterusnya akan datang badai yang mungkin dapat mengoyakkan ilusi dalam hitungan nano second.
Mari menikmati kekecewaan ini dengan senyuman.
Lalu kita hamburkan bersama anai-anai di musim semi nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agustusku

Agustusku, mana Agustusku? Lenyap seperti kertas yang dibakar dan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada pensil kayu. Hallo kamu? Oh aku lupa. Sudah lama tidak ada kata ganti milik di kamus kehidupanku. Beku. Seperti badai yang tersiku sampai di hulu. Lalu hanya tersisa uap-uap kertas yang aroma apinya masih mampu kucium dengan benar. Sejauh aku tidak menderita gagal penciuman kronis. Kertas yang dulu menggali banyak air mata dan pelukan hangat. Sekarang berubah menjadi sepi yang menjadikan bulu kuduk manusia normal berdiri. Mungkin, selama ini aku kurang normal. Atau konsep normalku jauh lebih tinggi dibandingkan manusia sejawatku? Entahlah. Karena hingga pusaran detik ini, aku belum mencium aroma senja. Sejak kertas itu kubakar dan melukai mataku. Agustusku, sedikit bercampur dengan bau keringat kakek penjual mainan dan juga bunga sedap malam di teras belakang. Menimbulkan kombinasi sensoris kelas tinggi. Ada rasa yang ingin kugali dan kusematkan pada penghujung hari ...

Atas Nama Kalian

Kata mereka, bahagia adalah sebuah pilihan. Bagiku, bahagia adalah kutukan. Bagaimana mungkin mereka bisa berkata, "Semua akan indah pada waktunya.". Bagaimana jika sesungguhnya keindahan itu telah ditampilkan saat ini, tetapi manusia tidak pernah sadar. Tidak cukup ahli untuk melihat. Tidak cukup peka untuk mendengar. Lalu, mengapa harus menunggu "nanti" untuk sekedar berbahagia? Apakah bahagia semahal itu. Apakah bahagia sesuci itu hingga manusia harus bermandikan dengan perjuangan yang kadang terkesan konyol hanya untuk merasakan satu kosa kata yang absurb itu. Aku dulu orang yang sangat apatis dengan kehidupan komplit dengan berbagai aksesorisnya yang penuh siasat dan juga mantra klasik yang tak jarang penuh tipu. Aku dulu orang yang akan mengerutkan kening dan menatap penuh curiga ketika topik berbincangan yang terhidang di meja makan adalah tentang kebahagiaan. Bagiku kebahagiaan adalah sebuah wujud yang terkesan indah dan megah namun isinya kosong. Sa...