Langsung ke konten utama

Suatu hari di bahari....

Tak ada pengaruhnya tindakan ini pada sepucuk kemungkinan, karena mentari pun akan terbenam.
Tetap saja mengadu pada dinginnya malam sampai dinginnya menguliti pikirku.
Sama sekali tidak ada pengaruhnya pada seucap kata ini karena waktu tak pernah sekalipun menunggu.
Lalu, harus terus berjalan dan pura-pura tidak mendengar, pura-pura tidak merasakan.
Meskipun kenyataan pada akhirnya akan menang di ujung persimpangan.
Lalu tahapku hanya sampai melalui dan merasakan atmosfer kekecewaan yang semakin keras tertawa.
Sudahlah, mari kita duduk sejenak, menikmati bahari dan aroma kopi merk-ku sendiri.
Karena esok, lusa, dan seterusnya akan datang badai yang mungkin dapat mengoyakkan ilusi dalam hitungan nano second.
Mari menikmati kekecewaan ini dengan senyuman.
Lalu kita hamburkan bersama anai-anai di musim semi nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Little Secret

Tea Bar. Mall Olympic Garden. Some days ago. She   : Are you sure , mek? Me    : For sure , mek. It’s been 17 years since the day . Waktu itu aku masih bodoh, tapi aku tahu what really happened actually. I know it . She   : How do you know? I mean, you was still innocence. Me     : Itulah hebatnya temanmu ini, mek. Sometimes aku bisa tahu apa yang sama sekali tidak aku tahu. Aku bisa mengerti apa yang seharusnya tidak aku mengerti. And, I did. It happened magically. And then, aku sadar beberapa tahun setelah itu. Just for unsure that something really happened and that was true, mek. I was not in delusion or what. I was completely sober. She   : Shit. But, aku salut mek. Kamu bisa melalui ini semua. Me    : Siapa bilang? I’ve been suffering for more than 7 years in the beginning. Aku takut, mek. Sangat. Tapi aku berani menyimpannya sendiri aku tidak ingin siapapun tahu. Bahkan keluargaku. No , aku tidak ingin me...

Isyarat

Malam ini, gundah memuncak di sudut sanubariku yang paling ujung. Aku kembali teringat tentang wajahmu. Tentang konsep mengakhiri dan menjadikannya kenangan. Bahkan, kita tidak pernah memulai sebuah awal, bagaimana bisa mengambil kosa kata “mengakhiri”. Aku kembali ke detik beberapa hari yang lalu, ketika tatapanmu dan tatapanku bertemu di sebuah kedai kopi dan sebuah Espresso beserta Americano menjadi saksi dua umat manusia yang berbincang tentang kehidupan yang tidak pernah sekalipun benar-benar hidup. Mungkin saat itu, kenyataan tidak sepahit Espressomu atau tidak sedingin Americanoku. Tetapi, aku telah lebih awal mengakhiri segala letupan-letupan perasaan yang menjadikanku semakin hanyut dan tenggelam dalam medan magnet yang kau buat. Mungkin, medan magnet itu bukan untukku. Aku hanya tersesat dan baru menyadarinya di akhir hari. Dingin tidak membuat langkah kakiku berhenti. Menyusuri jalan di sekitar tempat tinggalku dan menghirup sedikit udara segar untuk menyuplai ulang...

Pulang

Old House Pulang. Apakah pulang akan menjadi ritual yang begitu mengerikan? Jika tidak, mengapa selama setahun yang lalu aku tidak pernah membenamkan tubuhku pada hangatnya kamarku sendiri atau sekedar merasakan dinginnya lantai di tempat itu. Tempat   yang orang lain bilang rumahku.  Ada luka yang harus aku sembuhkan setiap kali kaki kurus ini mulai melangkah ke pelatarannya yang luas. Minimal beberapa mili air mata akan jatuh dan bercumbu dengan tanah halaman yang gersang itu. Tanah yang merindukan hujan di bulan desember.  Air mata itu akan menjelma keindahan seperti air terjun Niagara di kala senja. Bedanya di rumah itu tidak ada pelangi. Tidak ada terang setelah gelap. Tidak ada kata maaf setelah caci maki. Tidak ada peluk setelah tampar.   Pulang. Seperti enyah dalam angan-anganku yang pendek. Terlalu pendek untuk bisa bertahan diantara sekat-sekat formalnya. Entah, siapa yang membuatnya menjadi beku. Layaknya harapan kosong yang selamanya h...