Langsung ke konten utama

Jadi, seperti inilah kita

Kita hanyalah lakon dalam dunia yang penuh warna kelabu hingga merah pucat.
Kita hanyalah seonggok bentuk lain dari tragedi yang porak poranda akibat semesta yang menerbangkan kabar duka sampai ke seberang.
Kita hanyalah pelaku yang mengunduh file dan membaca script tanpa harus melakukan adegan berbahaya dengan stunmant.
Kegilaan otak kita kadang menghamburkan kenyataan bahwa apa yang ada saat ini adalah sebotol minuman yang hanya tersisa beberapa tetes.
Tidak ada krat-krat besar berisi wine seperti yang sering kita lihat di gudang penyimpanan milik tetangga sebelah.
Bodohnya, kadang kita justru terlena pada sisi lain dari dunia yang menampilkan bayangan bias lewat pantulan cermin.
Yang kita lihat bukan sepenuhnya kanan atau kiri, karena kita hanya melihat dari satu sisi.
Bukan maksud Tuhan tidak adil atau malaikat yang salah menyampaikan paket lantaran angka kode pos pada dua digit terakhir terhapus oleh kotoran burung.
Hanya saja kita telah terikat kontrak kehidupan dengan alam semesta sebagai saksi dan Tuhan sebagai sutradara.
Kita hanya perlu mempelajari, memahami, dan menjalani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

This Morning Was Awesome

Today was like another ordinary day. Bangun pagi (serius, kali ini pagi banget), mandi, menyiapkan sarapan, and then sarapan pagi ditemani credit serial The Original . Aktivitas rutin. Pergi ke kampus, mencari tempat parkir yang masih muat untuk kendaraanku yang satu itu. Kemudian mencari spot yang cocok untuk menunggu seorang teman, ditemani novel yang belum selesai aku baca tentunya. Sungguh, pagi yang seperti biasa. Aku mencari tempat tepat di depan laboratorium biasa aku bekerja. Di terasnya, aku duduk di sebuah bangku semen yang menghadap langsung ke sisi jalan. Masih terlalu pagi untuk coffee-break , so aku hanya menggenggam bukuku dan untuk beberapa saat lamanya aku tenggelam dalam lamunanku. Tentang tempat itu, tentang apa saja yang sudah aku lakukan di tempat itu selama lebih dari empat tahun, tentang harapan yang dulu pernah terbakar habis di pelataran hati seorang gadis, dan juga tentang pria yang segera memadamkannya. Semua itu terekam dengan baik di memori otakk...

Fight Againts You

Hujan, oh nope . Hanya gerimis, itu pun tidak terlalu mengancam keberadaan jaket seharga puluhan dollar yang sedang aku tenteng di bahuku. Sebaiknya memang aku pulang lebih awal. Sebelum hujan semakin deras dan menahanku di kedai kopi bodoh ini. Why so? I mean, why do I call this stupid coffee shop? Because , aku dulu pernah merasa bodoh berada di sini. Untuk waktu yang sangat lama, oh aku lupa mungkin saja tidak selama itu, akhir-akhir ini perhitungan matematikaku sering meleset. Hanya, sekitar 5 tahun lebih mungkin. See? Tidak terlalu lama, bukan? Aku bangkit dari sofa ungu yang sedari tadi aku duduki hanya untuk berkencan dengan segelas Gin dan berjalan menuju pintu keluar. Masih dengan jaket hitam yang aku tenteng di bahu kiriku, aku bermaksud menggunakannya dan seseorang meraih tanganku. Bukan orang asing, sama sekali. Hanya saja aku sedang tidak dalam kondisi mood yang sempurna untuk melakukan nostalgia, terlebih nostalgia tentang kebodohanku di masa lampu. Yap, that’...

I'm Leaving

“Aku hampir menenggelamkan sedan ke sungai, Ndre!” Teriakku. “Aku hampir mencelakakan orang. Kamu bilang aku baik-baik saja? Kamu buta!!” Tambahku.  Aku menyegerakan kakiku melangkah dari kedai kopi itu dan bersatu dengan keramaian di jalan. Meski aku sendiri tidak paham dengan keramaian macam apa yang sedang aku hadapi. Kepalaku terasa pusing. Ribuan kunang-kunang berebut bermain di sela-sela rambutku. Aku tidak mampu melihat dengan jelas. Semua hambar. Semua buyar. *** “Kamu oke?” Tanya Andre dengan raut muka cemas dan penuh tanda tanya. Aku memalingkan wajah ke arah lain. Menyapu seluruh pandangan. Di atasku banyak bintang-bintang bertebaran. Mendung yang tebal tidak sampai hati untuk menutupi keindahan pancaran sinar bintang itu. Aku tersenyum sembari menutup sebelah mata. “Eh kampret! Malah senyum. Heh, Kamu gak papa?” tegasnya lagi. Aku hampir lupa kalau kepalaku saat ini sedang berada di pangkuan pria tengil bernama Andre. Mirip adegan di fil...